Proyek MSAN


PT. Telkom sebagai satu-satunya penyedia jasa PSTN (Public Switched Telephone Network) di Indonesia sedang mengimplementasikan proyek MSAN. Seperti apa dan bagaimana Proyek tersebut, saya sajikan dengan mengutip dari beberapa sumber.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat dunia akan layanan telekomunikasi yang bukan sekedar suara tapi juga data dan multimedia. Saat ini sedang dicanangkan sistem jaringan telekomunikasi yang efisien untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas, beberapa tahun terakhir ini di dunia telekomunikasi telah diperkenalkan jenis jaringan yang berbasis paket yang disebut Next Generation Network (NGN).

Proyek MSAN merupakan partisipasi PT. Telkom menuju ke ”NEXT GENERATION NETWORK”. Saat ini telah terpasang dan sedang diimplementasikan proyek MSAN di wilayah regional Telkom untuk area Jabodetabek, Jabar, Jatim dan wilayah regional Telkom Indonesia Timur. Beberapa vendor besar ikut berpartisipasi seperti Huawei, ZTE dan NSN.

Multiple Service Access Node (Jaringan Layanan Multi Akses) merupakan generasi ketiga dari teknologi OAN yang memiliki kemampuan untuk memberikan berbagai jenis layanan seperti. Fungsi Access Gateway yang bisa langsung terhubung ke Softswitch untuk memberikan layanan voice, fungsi Broadband Access multiplexer yang membawa layanan berbasis ADSL, ADSL2/2+, G.SHDSL2, juga dikembangkan dengan mengintegrasikan fungsi IP DSLAM serta Access Gateway dalam single platform.


Secara umum MSAN akan sampai ke pelanggan dengan layanan triple play yaitu; menyalurkan layanan high speed internet access (HSIA), Voice packet dan layanan IPTV secara bersamaan melalui infrastruktur yang sama.

Kedepan, untuk penambahan jaringan PSTN Telkom maka semua pelangggan sudah dilayani dengan perangkat MSAN, bahkan saat ini Telkom juga sedang mengimplementasikan MSAN Modernisasi, yaitu upgrade jaringan pelanggan existing ke MSAN, baik yang masih merupakan jaringan Copper Acces Network dengan teminal pelanggan menggunakan RK maupun jaringan akses yang terminal pelanggan sudah menggunakan ONU.

Dari sisi investasi juga sangat efisien, tidak jarang kita temui satu lokasi dengan 2 atau 3 kabinet baik itu RK, ONU dan DSLAM, yang dalam pelaksanaannya dikerjakan dengan proyek yang berbeda, selain masalah biaya juga masalah sosial akibat komplein dari pihak warga maupun pemerintah daerah, bukan hanya masalah lahan tapi juga masalah keindahan dan penggalian kabel yang berulang-ulang.

Node MSAN sekaligus menggantikan fungsi kabinet RK, ONU dan DSLAM. Selain itu jaringan sekunder dari Node pelanggan (MSAN) ke DP tetap menggunakan kabel tembaga begitu juga dari DP ke pelanggan tetap menggunakan DW.

Dari sisi pelanggan apabila ingin memanfaatkan fitur MSAN cukup dengan mengganti pesawat telpon dan penggantian terminal dengan perangkat yang berfungsi seperti modem sebagai bagian dari instalasi kabel rumah yang sudah ada.



Migrasi Existing Akses Network ke MSAN

Seperti yang telah dijelaskan pada postingan sebelumnya, Multiple Service Access Node (Jaringan Layanan Multi Akses) merupakan generasi ketiga dari teknologi OAN yang memiliki kemampuan untuk memberikan berbagai jenis layanan seperti. Fungsi Access Gateway yang bisa langsung terhubung ke Softswitch untuk memberikan layanan voice, fungsi Broadband Access multiplexer yang membawa layanan berbasis ADSL, ADSL2/2+, G.SHDSL2, juga dikembangkan dengan mengintegrasikan fungsi IP DSLAM serta Access Gateway dalam single platform.

Dalam rangka mengupgrade jaringan bagi pelanggan eksisting, maka ada tiga jenis modernisasi terhadap jaringan eksisting yang bisa diterapkan yaitu:

  • Modernisasi RK eksisting ke MSAN
  


  • Modernisasi ONU eksisting ke MSAN

  • Modernisasi RK eksisting dengan catuan ONU ke MSAN


  

Galery Pekerjaan Fiber Optik






 











Galery Pendirian Tower BTS






















Project Implementation Plan OSP Fiber Optic.



Dalam pelaksanaan proyek jaringan fiber optic diperlukan strategi dan perencanaan yang matang agar target pelaksanaan bisa tercapai, berikut Project Implementation Plan OSP Fiber Optic.



1. Desain dan perencanaan

  • Survey secara detail lokasi pekerjaan.
  • Pembuatan gambar Asplan.
  • Penghitungan volume pekerjaan, LoM dan BoQ.
  • Aproval gambar desain ke pemilik proyek atau konsultan yang ditunjuk.
2. Persiapan kebutuhan material dan pengiriman ke lokasi
  • Persiapan kebutuhan material mengacu ke List of Material dan Bill of Quantity.
  • Pengajuan contoh material dan supplier untuk material utama yang harus disiapkan sesuai kontrak dengan pemilik proyek (Kabel fiber optic, hdpe subduct, warning tape, OTB dan closure).
  • Pembuatan jadwal pengiriman material ke lokasi dan mengacu ke jadwal implementasi, baik itu yang disiapkan oleh pelaksana proyek maupun material yang disiapkan oleh pemilik proyek.
3. Perizinan
  • Mengacu kepada gambar Asplan, rute galian dan spesifikasi teknis pekerjaan.
  • Pengajuan izin harus ditujukan ke Dinas Kimpraswil Provinsi dan Pemerintah Kota atau Kabupaten serta berkoordinasi dengan instansi atau dinas-dinas terkait (termasuk PLN, PDAM, Pertamina, PGN, Telkom atau operator telekomunikasi lain).
  • Koordinasi dengan pihak ketiga apabila dibutuhkan karena kemungkinan rute pekerjaan melintasi privat area.
  • Pengurusan perizinan sangat tergantung pada masing-masing daerah. (Pemerintah ataupun pihak ketiga).
  • Pemberian izin kerja atau rekomendasi dari pihak terkait biasanya setelah dilaksanakan survey bersama pada lokasi yang diajukan permohonan izinnya.
4. Implementasi di lapangan
  • Persiapan di lokasi baik itu site office, gudang material ataupun basecamp pekerja.
  • Survey rute untuk strategi pelaksanaan dan identifikasi rute existing kabel maupun utilitas.
  • Pembagian tim kerja (pengawas, pelaksana lapangan, mandor maupun tenaga kerja)
  • Mobilisasi tenaga kerja ke lokasi (transportasi darat, laut maupun udara).
  • Pelaksanaan pekerjaan sipil; galian, penarikan subduct, crossing jalan, boring jalan maupun sungai, jembatan kabel dan pembuatan handhole.
  • Instalasi kabel fiber optic; penarikan kabel, penyambungan maupun terminasi.
5. Project controlling
  • Semua aktivitas implementasi harus dicatat dan dilaporkan dalam laporan harian (Daily Site Diary) yang disepakati bersama antara pelaksana proyek dan pemilik proyek.
  • Material di lapangan juga harus dikontrol penggunaannya, distribusi, dan stock material yang tersedia.
  • Untuk pelaksanaan yang diluar dari Asplan baik itu perubahan volume ataupun perubahan spesifikasi teknis dan hal-lain yang bersifat prinsip harus didukung dengan Berita Acara ataupun pengajuan permohonan perubahan desain.
  • Perhitungan progres pekerjaan mengacu ke laporan harian (Daily Site Diary).
  • Pembuatan laporan berkala baik mingguan atupun bulanan sesuai kesepakatan.
  • Laporan berkala tersebut berisi pandangan umum pelaksanaan proyek, kemajuan pelaksanaan, dokumentasi pelaksanaan, masalah dan solusi serta kurva S pelaksanaan proyek.
6. Quality Management
  • Untuk memastikan terpenuhinya standar kualitas pekerjaan dilapangan maka harus dibuat sistem pengawasan dan pengecekan dari pihak pelaksana mulai dari Project Manager, Manager Lapangan dan tim pelaksana (Tim audit internal bila memungkinkan).
  • Pemilik proyek biasanya juga mempersiapkan sistem pengawasan dan tim tersendiri.
7. Commisioning dan Own Test
  • Biasa juga disebut internal test bagi pelaksana proyek mengingat pekerjaan yang biasanya juga melibatkan beberapa pihak (subkontraktor, suplier maupun mandor-mandor yang membawahi tenaga kerja)
  • Test end to end dengan menggunakan OTDR maupun Power Meter.
  • Pengetesan dan pengecekan untuk semua item pekerjaan.
8. Acceptance Test atau Uji Terima.
  • Sebelum pekerjaan diserahkan ke pemilik proyek maka pihak pelaksana mempersiapkan Tes terlebih dahulu.
  • Persiapan tim Uji Terima baik dari pihak pelaksana maupun pemilik proyek.
  • Pengecekan dilaksanakan secara sampling atau sesuai kesepakatan maupun permintaan dari pemilik proyek.
  • Penandatangan Berita Acara Serah Terima dengan mencantumkan hasil keputusan pemilik proyek menerima atau tidak ataupun masih ada pending item.

Serat optik

Serat optik adalah merupakan saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dar kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya  dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah laser atau LED  Kabel ini berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat  optik tidak keluar karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran komunikasi.


Perkembangan teknologi serat optik saat ini, telah dapat menghasilkan pelemahan (attenuation) kurang dari 20 decibels (dB)/km. Dengan lebar jalur (bandwidth) yang besar sehingga kemampuan dalam mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan cepat dibandingan dengan penggunaan kabel konvensional. Dengan demikian serat optik sangat cocok digunakan terutama dalam aplikasi sistem telekomunikasi . Pada prinsipnya serat optik memantulkan dan membiaskan sejumlah cahaya yang merambat didalamnya.

Efisiensi dari serat optik ditentukan oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas/kaca. Semakin murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik.

Secara garis besar kabel serat optik terdiri dari 2 bagian utama, yaitu cladding dan core  Cladding adalah selubung dari inti (core). Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core akan memantulkan

 Dalam aplikasinya serat optik biasanya diselubungi oleh lapisan resin   yang disebut dengan jacket, biasanya berbahan plastik  . Lapisan ini dapat menambah kekuatan untuk kabel serat optik, walaupun tidak memberikan peningkatan terhadap sifat gelombang pandu optik pada kabel tersebut. Namun lapisan resin ini dapat menyerap cahaya dan mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran cahaya yang keluar dari selubung inti. Serta hal ini dapat juga mengurangi cakap silang  (cross talk) yang mungkin terjadi.

Pembagian serat optik dapat dilihat dari 2 macam perbedaan :

1. Berdasarkan mode yang dirambatkan
  • Single mode : serat optik dengan inti (core) yang sangat kecil (biasanya sekitar 8,3 mikron), diameter intinya sangat sempit mendekati panjang gelombang sehingga cahaya yang masuk ke dalamnya tidak terpantul-pantul ke dinding selongsong (cladding). Bahagian inti serat optik single-mode terbuat dari bahan kaca silika  (SiO2) dengan sejumlah kecil kaca Germania (GeO2) untuk meningkatkan indeks biasnya. Untuk mendapatkan performa yang baik pada kabel ini, biasanya untuk ukuran selongsongnya adalah sekitar 15 kali dari ukuran inti (sekitar 125 mikron). Kabel untuk jenis ini paling mahal, tetapi memiliki pelemahan (kurang dari 0.35dB per kilometer), sehingga memungkin kecepatan yang sangat tinggi dari jarak yang sangat jauh. Standar terbaru untuk kabel ini adalah ITU-T G.652D, dan G.657
  • Multi mode  : serat optik dengan diameter core yang agak besar yang membuat laser di dalamnya akan terpantul-pantul di dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth dari serat optik jenis ini.
2. Berdasarkan indeks bias core
  • Step indeks : pada serat optik step indeks, core memiliki indeks bias yang homogen .
  • Graded indeks : indeks bias core semakin mendekat ke arah cladding semakin kecil. Jadi pada graded indeks, pusat core memiliki nilai indeks bias yang paling besar. Serat graded indeks memungkinkan untuk membawa bandwidth yang lebih besar, karena pelebaran pulsa yang terjadi dapat diminimalkan.
Pelemahan

Pelemahan (Attenuation) cahaya  sangat penting diketahui terutama dalam merancang sistem telekomunikasi serat optik itu sendiri. Pelemahan cahaya dalam serat optik adalah adanya penurunan rata-rata daya optik pada kabel serat optik, biasanya diekspresikan dalam decibel (dB) tanpa tanda negatif. Berikut ini beberapa hal yang menyumbang kepada pelemahan cahaya pada serat optik
  1. Penyerapan (Absorption)
    Kehilangan cahaya yang disebabkan adanya kotoran dalam serat optik.
  2. Penyebaran (Scattering)
  3. Kehilangan radiasi (radiative losses)
Reliabilitas dari serat optik dapat ditentukan dengan satuan BER (Bit Error Rate). Salah satu ujung serat optik diberi masukan data tertentu dan ujung yang lain mengolah data itu. Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang serat mencapai beberapa km, maka akan menghasilkan kesalahan. Jumlah kesalahan persatuan waktu tersebut dinamakan BER. Dengan diketahuinya BER maka, Jumlah kesalahan pada serat optik yang sama dengan panjang yang berbeda dapat diperkirakan besarnya.

VSAT ( Very Small Aperture Terminal)

VSAT ( Very Small Aperture Terminal) adalah stasiun penerima sinyal dari satelit   dengan antena penerima berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter. Fungsi utama dari VSAT adalah untuk menerima dan mengirim data ke satelit. Satelit berfungsi sebagai penerus sinyal untuk dikirimkan ke titik lainnya di atas bumi. Sebenarnya piringan VSAT tersebut menghadap ke sebuah satelit geostasioner . Satelit geostasioner merupakan satelit yang selalu berada di tempat yang sama sejalan dengan perputaran bumi pada sumbunya yang dimungkinkan karena mengorbit pada titik yang sama di atas permukaan bumi, dan mengikuti perputaran bumi pada sumbunya.

Mengirim Dan Menerima Data

Mendapatkan data Internet  dari setelit sama dengan mendapatkan sinyal televisi dari satelit Data dikirimkan oleh satelit dan diterima oleh sebuah alat decoder pada sisi pelanggan. Data yang diterima dan yang hendak dikirimkan melalui VSAT harus di-encode dan di-decode terlebih dahulu. Satelit Telkom-1 menggunakan C-Band (4-6 GHz). Selain C-Band ada juga KU-Band Namun C-Band lebih tahan terhadap cuaca  dibandingkan dengan KU-Band. Satelit ini menggunakan frekuensi yang berbeda antara menerima dan mengirim data. Intinya, frekuensi yang tinggi digunakan untuk uplink (5,925 sampai 6,425 GHz), frekuensi yang lebih rendah digunakan untuk downlink (3,7 sampai 4.2 GHz).

Sistem ini mengadopsi teknologi TDM dan TDMA Umumnya konfigurasi VSAT adalah seperti bintang. Piringan yang ditengah disebut hub dan melayani banyak piringan lainnya yang berlokasi di tempat yang jauh. Hub berkomunikasi dengan piringan lainnya menggunakan kanal TDM dan diterima oleh semua piringan lainnya. Piringan lainnya mengirimkan data ke hub menggunakan kanal TDMA. Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan konektifitas yang baik untuk hubungan data, suara dan fax  Semua lalu lintas data harus melalui hub ini, bahkan jika suatu piringan lain hendak berhubungan dengan piringan lainnya. Hub ini mengatur semua rute data pada jaringan VSAT.
Frame TDM selalu berukuran 5.760 byte. Setiap frame memiliki 240 sub-frame. Setiap sub-frame adalah 24 byte. Panjang waktu frame tergantung pada data rate outbound yang dipilih. TDMA selalu pada 180 ms. TDMA disinkronisasi untuk memastikan bahwa kiriman data yang berasal dari stasiun yang berbeda tidak bertabrakan satu dengan yang lainnya.

Pendapat umum mengatakan bahwa koneksi dengan satelit adalah koneksi yang paling cepat. Kenyataanya adalah tidak. Waktu yang dibutuhkan dari satu titik di atas bumi ke titik lainnya melalui satelit adalah sekitar 700 milisecond, sementara leased line hanya butuh waktu sekitar 40 milisecond. Hal ini disebabkan oleh jarak yang harus ditempuh oleh data yaitu dari bumi ke satelit dan kembali ke bumi. Satelit geostasioner sendiri berketinggian sekitar 36.000 kilometer di atas permukaan bumi.
  
Perangkat

Terminal Antena Sangat Kecil adalah alat di stasiun bumi dan digunakan untuk mengirim serta menerima pancaran frekwensi daripada satelit. Antena VSAT berukuran lebih kurang 2 hingga 10 kaki (0.55-2.75 m) dipasang di atap ,dinding atau atas tanah dan pemilihan besar kecilnya antena sangat tergantung pada jenis frekuensi (misalnya C band atau Ku band) yang akan digunakan.

Komponen

Komponen VSAT, terdiri dari:
  • Unit Luar (Outdoor Unit (ODU):
    1. Antena/dish/parabola ukuran 2 hingga 4 kaki (0.55-2.4 m), yang dipasang pada atap, dinding atau di tanah.
    2. BUC (Block Up Converter), yang menghantarkan sinyal informasi ke satelit.Juga sering disebut sebagai Transmitter (Tx).
    3. LNB (Low Noise Block Up), yang menerima sinyal informasi dari satelit. Juga sering disebut sebagai Receiver (Rx).
  • Unit Dalam (Indoor Unit (IDU)):
    1. Modem (Modulator / Demodulator), sebuah alat dipanggil Return Channel Satellite Terminal yang menyambungkan dari unit luar dengan IFL kabel berukuran panjang tidak lebih 50 meter.
    2. IFL (Inter Facility Link). Merupakan media penghubung antara ODU & IDU. Fisiknya biasanya berupa kabel dengan jenis koaksial dan biasanya menggunakan konektor jenis BNC (Bayonet Neill-Concelman).
  • Satelit
    1. Merupakan alat di orbit  bumi khusus untuk menerima/ menghantar maklumat secara nirkabel , berkomunikasi melalui frekuensi radio.
menggunakan Satelit Telkom 2 (Indonesia) digunakan untuk Depdagri, dengan teknologi C band yang lebih tahan dengan cuaca di Indonesia (berhubungan dengan masalah curah hujan yang cukup tinggi di Indonesia). Menggunakan Komunikasi 2 arah, menerima dan menghantar isyarat. Daerah yang dipasang VSAT dikenali sebagai remote terminal, dikawal oleh hub station. Semua isyarat dari satelit dikirim ke hub terlebih dahulu sebelum dikirim kembali ke terminal remote lain, yaitu Propinsi / Kabupaten.
  • Kapasitas muat turun (download) ialah 1 Mbps tetapi boleh dinaiktaraf sehingga mencapai 45 Mbps**
  • Kapasitas muat naik (upload) pula ialah 128 Kbps tetapi boleh dinaiktaraf sehingga mencapai 1.1 Mbps**
  • Kontrak perjanjian SchoolNet hanya 1 Mbps muatturun dan 128 Kbps muatnaik
Kedudukan Satelit

Jenis-jenis satelit bergantung kepada kedudukannya dengan permukaan bumi.
Ada 4 jenis satelit :
  • GEO -Geostaioner (geo-synchronous) earth orbit Geostasioner 
  • MEO -Medium earth orbit
  • LEO -Low earth orbit Orbit bumi rendah 
  • HEO -Highly elliptical orbit

 

Keunggulan dan kekurangan

Keunggulan VSAT:
  • Pemasangannya cepat.
  • Jangkauan terjauh dapat mencapai setengah permukaan bumi.
Kekurangan VSAT:
  • Koneksinya rentan terhadap gangguan cuaca (terhadap molekul air).
  • Memakan tempat, terutama untuk piringannya.
  • Latency yang lebih tinggi di bandingkan kabel
Tower BTS
 
Dewasa ini telah berkembang tower BTS 3 kaki sebagai alternatif desain struktur tower BTS yang sering dijumpai, yaitu struktur tower BTS 4 kaki. Perkembangan desain tower BTS dari 4 kaki menjadi 3 kaki dengan maksud menghasilkan struktur yang lebih efisien, ekonomis dan aman. Namun perkembangan desain struktur tower BTS 3 kaki sebagai alternatif desain , perlu mendapat perhatian dari segi struktur pondasi, karena desain tipe pondasi yang kurang tepat bisa menyebabkan struktur menjadi tidak stabil dari segi daya dukung dan tidak ekonomis dari biaya. Sehingga perlu dilakukan studi alternatif tipe pondasi untuk tower BTS 3 kaki dengan variasi ketinggian berbeda yang berdiri di atas tanah kohesif , sebagai dasar perencanaan tipe pondasi yang ekonomis dan aman. 

Untuk mendapatkan variasi ketinggian yang diinginkan, tower BTS 3 kaki dengan tinggi 71m akan dimodifikasi menjadi 92 m dan 40 m dengan program SAP 2000. Dipilih variasi ketinggian 40 m, 71m, dan 92 m karena ketinggian tersebut merupakan variasi ketinggian yang terdapat pada tower BTS 3 kaki. Dengan menginventarisasi beban-beban yang bekerja pada masing-masing tower BTS maka reaksi perletakan masing-masing tower BTS dapat diketahui dengan program bantu SAP 2000. Setelah reaksi perletakan pada masing-masing tower BTS diketahui, dapat direncanakan pondasi telapak dan mat foundation untuk masing-masing tower BTS 3 kaki yang berdiri diatas tanah kohesif. 

Hasil yang didapat dari perencanaan tersebut adalah lebar minimum pondasi telapak persegi untuk tower BTS 40 m, 71 m dan 92 m adalah 1.5 m, 2 m dan 2.5 m. Sedangkan panjang sisi minimal pada mat foundation untuk tower BTS 40 m, 71 m dan 92 m adalah 5 m, 7 m, dan 8 m. Namun perencanaan pondasi telapak tidak efisien direncanakan pada tanah lunak ( C = 2.01 t/m2 ) dan tanah sedang ( C = 4.75 t/m2 ) jika dibandingkan mat foundation. Sedangkan pada tanah keras ( C = 19.4 t/m2 ) pondasi telapak lebih efisien.
JAKARTA - Menteri Kominfo Tifatul Sembiring telah mengesahkan Peraturan Menteri Kominfo No. 1/PER/M.KOMINFO/1/2010 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi.

Menurut Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo, Gatot S Dewa Broto pertimbangan utama diterbitkannya peraturan ini adalah, ketentuan penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. KM . 20 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 30/PER/M.KOMINFO/09/2008 dipandang tidak sesuai lagi dengan perkembangan penyelenggaraan jaringan telekomunikasi.

"Beberapa hal baru yang diatur di dalam peraturan menteri kominfo ini, untuk membedakan dengan dua aturan sebelumnya diantaranya, pelaksanaan jelajah (roaming) nasional dilaksanakan berdasarkan kerja sama dengan penyelenggara jaringan bergerak seluler lainnya yang dituangkan dalam perjanjian tertulis," kata Gatot dalam keterangannya, Rabu (27/1/2010).

Hal lain yang dicantumkan dalam Permen tersebut ialah, ketentuan proses seleksi penyelenggara jaringan telekomunikasi tidak berlaku bagi penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang akan diselenggarakan oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi yang telah memiliki izin penggunaan kode akses jaringan dan bermaksud menyelenggarakan jenis penyelenggaraan jaringan telekomunikasi lain.

Selain itu, poin yang harus diperhatikan adalah adalah  tata cara penyelenggaraan janngan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dilakukan melalui proses evaluasi . Jaringan bergerak terestrial radio trunking dengan cakupan beberapa kabupaten dan kota dapat tidak tersambung antara satu dan lainnya .